Blora-Nilai Ekonomi Tinggi, Mampu Kembalikan Kesuburan Tanah

Kacang koro pedang –nama latin Canavalia Ensiformis untuk biji putih, dan Canavalia Gladlala untuk biji merah– telah dibudidayakan di tanah seluas tak kurang 10 hektar di Kecamatan Ngawen, Blora. Selain memiliki kandungan protein cukup tinggi, koro pedang terbukti mampu mengembalikan kesuburan tanah. Sebagai bahan pembuat tahu dan tempe, koro pedang juga dijadikan bahan campuran abon dan kosmetik. Bagaimana perjuangan mereka-mereka yang terlibat untuk membudidayakan koro pedang di Blora? Bagaimana pula potensi koro pedang ini?

MEDIO September 2010, seorang pemuda dari Kecamatan Banjarejo tengah berpikir keras tentang tanaman apa yang cocok dikembangkan di Blora. Ia juga mengangankan tanaman tersebut dibudidaya tanpa mengeluarkan ongkos besar. Sementara bertanam padi, selain ongkos produksi tinggi juga hampir tak memungkinkan dilakukan saat musim kemarau berkepanjangan terjadi.

Secara kebetulan ia bertemu Triyono, Ketua DPD Asosiasi Penanam dan Petani Koro Pedang Indonesia (APPKPI) Kabupaten Blora.

“Kami berbincang tentang pertanian. Di situ kami juga berbincang tentang ongkos produksi petani. Ketemulah yang namanya kacang koro pedang, yang mana ongkos produksi petani tidak terlalu membutuhkan modal besar,” kata Moch. Mulgiyanto Mr, nama pemuda Banjar tersebut.

Setelah pertemuannya dengan Triyono, Mul –panggilan akrab Moch. Mulgiyanto Mr– mengkontak kawan-kawan pemuda seusianya. Ia berpikir tentang bagaimana pemuda di Blora yang tidak produktif menjadi berdaya. Ia juga merasa sedih dengan pemuda-pemuda Blora yang malah menjuali tanahnya untuk masuk PNS atau malah merantau ke kota-kota besar yang belum tentu menjamin kehidupan mereka kelak.

“Tanggapan kawan-kawan sangat positif. Lalu kami merencanakan untuk menggelar pelatihan menanam koro pedang,” ujarnya.

Pelatihan pertama digelar di Banjarejo. Semua biaya dari swadaya. Tak ada keterlibatan dari pemerintah. Murni, mereka bekerja secara mandiri.

Melibatkan sedikitnya 20-an pemuda. Ketua APPKPI Blora didatangkan. Lalu terbentuklah kepengurusan APPKPI Kecamatan Banjarejo. Sayang, belum ada penggerak untuk pemuda-pemuda ini bisa mewujudkan petani koro pedang.

“Sebelumnya kepengurusan kabupaten sendiri masih terbilang vakum. Belum melakukan sosialisasi. Pak Tri sebagai ketuanya mencoba menanam sendiri. Namun tak dilanjutkan, dan sejak itu vakum sebelum akhirnya kami bertemu,” kata Mul.

Dari pelatihan pertama itu, berlanjut ke pelatihan kedua di Kecamatan Ngawen, sebelum Mei 2011. Fasilitas datang dari Pondok Pesantren Darul Anwar, menyertakan 40-an pemuda dari pondok tersebut. Dari pelatihan kedua inilah sesudahnya angan Mul untuk membudidaya koro pedang terwujud.

“Dari pelatihan pertama memang belum ada gerakan untuk membudi-daya koro pedang. Karena memang belum ada yang berani menanggung dananya. Di Ngawen, pemilik pondok pesantren Darul Anwar, Pak Syaifuddin berani memberikan modal untuk menanam koro pedang ini,” kata pemuda yang baru berusia 25 tahun ini.

Petani pemilik lahan yang nganggur pun didatangi. Lalu ditawarkan ke mereka. Ada petani yang memberikan tarif sewa lahan. Namun tak sedikit yang mau menerima dengan cara bagi hasil.

“APPKPI, dengan modal dari Pak Syaifuddin lalu memberikan fasilitas bibit dan obat. Sementara petani menyediakan lahan dan pengolahan. Tentunya dengan pendampingan dari kami,” kata jebolan sekolah tinggi agama islam yang banting stir memberdayakan petani ini.

Lahan pun didapat seluas tak kurang dari 10 hektar. Sebagian di Desa Pandan, sebagian di desa lainnya. Petani dan pemilik lahan yang terlibat sejumlah 16 orang. Sementara bibit seberat tak kurang dari 3 kuintal disediakan. Rinciannya: bibit seberat 30 kilogram untuk lahan seluas satu hektar. Sementara harga bibitnya per kilogram hanya Rp 20 ribu.

“Dari perhitungan, total biaya yang kita keluarkan untuk lahan seluas satu hektar mencapai Rp 5 juta. Itu sudah bibit, juga pengolahan, juga biaya panen.”

Uji awal pernah Mul dan kawan-kawan lakukan di lahan yang telah ada tanaman pohon jatinya. “Pertumbuhan ternyata tak bagus. Luas lahan yang gagal uji ada setengah hektar. Lalu kita coba di lahan yang benar-benar bero, dengan kadar air cukup rendah.”

Sebulan dua bulan kemudian tumbuh bagus-bagus. Hijau rimbun daun selebar 10-an cm dengan panjang tangkai daun 7-10 cm, mewarnai lahan seluas hampir 10 hektar di Kecamatan Ngawen.

“Semua ini kita kerjakan sekitar bulan Apri-Mei lalu. Saat ini sudah ada lahan yang panen. Kalau panen raya-nya akan kita lakukan dalam waktu dekat.”

Sejak panen yang belum seluruhnya ini, peminat budidaya koro pedang semakin tinggi. Di Ngawen, sudah ada petani lain yang menawarkan lahannya. Hingga saat ini, 15 September 2011, sudah terkumpul 20 hektar lahan siap pakai budidaya koro pedang.

“Ada juga permintaan di wilayah kecamatan Kunduran, Banjarejo, Japah dan Kunduran. Memang kita sedang mencari lahan seluas 200 hektar setelah nantinya melihat hasil dari panen raya. APPKPI akan menyediakan bibit untuk lahan 200 hektar di Kabupaten Blora sampai akhir tahun ini,” kata Mul yang pernah aktif di beberapa organisasi kepemudaan di Blora.

Bahkan, kata Mul, peminat koro pedang tidak hanya datang dari petani di Blora. Katanya, “Kami mendapat kontak dari Jawa Timur yang antusias membudidayakan koro pedang.”

Koro pedang adalah tanaman dari kelompok kacang-kacangan. Terbagi dua: berbiji putih dengan nama umum Jackbean (Canavalia ensiformis), dan tipe menjalar biji merah dikenal swardbean (Canvalia gladiata). Koro pedang memiliki keuntungan: mudah beradaptasi di lahan suboptimal, terutama pada lahan kering masam. Tanaman ini juga mudah dibudidayakan secara tunggal atau tumpangsari. Bahkan di tanah bero dan lahan tadah hujan sekalipun tanaman ini bisa berkembang dengan baik.

Dari penelitian, koro pedang cepat menghasilkan biomasa untuk pupuk hijau atau pakan, mengandung protein tinggi, dan bijinya mengandung senyawa beracun toksik berupa Con-Canavalia A yang dapat diolah sebagai obat kanker pada industri farmasi. Akar tanaman ini dapat mengikat unsur nitrogen dari udara sehingga dapat memperbaiki tingkat kesuburan tanah.

Hasil produksi tanaman ini sering dipakai untuk bahan campuran abon. Tak jarang juga jadi bahan baku untuk industri farmasi dan kosmetik di Jepang dan Amerika. Selain itu juga dapat digunakan sebagai bahan pengganti kedelai untuk membuat tempe atau tahu. Namun, toksin yang ada dalam biji tanaman tersebut perlu disterilkan agar tak beracun.

Dari masa pembibitan hingga panen, dibutuhkan waktu 4-7 bulan. Ini untuk jenis biji putih dengan varietas berumur genjah yang dibudidayakan Mul dan kawan-kawan. Waktu normalnya, kata Mul memang 4-6 bulan. Namun dari hasil lapangan yang didapat Mul dan kawan-kawan, panen bisa hingga bulan ke-7.

“Panen pertama pada umur tanaman 4 bulan. Satu tanaman kita mendapat rata-rata 8 polong. Jika kadar air yang dibutuhkan tercukupi, semestinya satu tanaman bisa sedikitnya 20 polong. Lalu pada bulan-bulan berikutnya bisa panen lagi. Jadi satu kali masa tanam, satu tanaman bisa panen 4 kali. Total dari perhitungan, 1 kali masa panen hasil yang didapat per hektar lahan bisa sedikitnya 10 ton,” panjang lebar Mul.

Dengan harga jual per kilogramnya Rp 2.500, sehektar luas lahan bisa menghasilkan sedikitnya Rp 25 juta selama 7 bulan. Sedangkan pasar dalam negerinya untuk suplai ke PT. Haldin Pasifik Semesta di Jakarta dan pabrik abon di Solo. Sementara potensi ekspor untuk pabrik-pabrik kosmetik yang tersebar di Eropa dan Amerika yang masih disuplai dari daratan Afrika.

“Untuk hasil panen dan pemasaran, APPKPI telah mengikat kerjasama dengan beberapa perusahaan di Jakarta untuk menampung hasil panen petani. Armada transportasi akan didatangkan dari pengurus wilayah di Semarang, untuk nantinya dibawa ke Jakarta,” kata Mul yang kini aktif di Gerakan Ekonomi Rakyat Mandiri (Geram).

Menurut Mul, masa sekali tanam akan dilakukan sepanjang 7 bulan. Ia berkata, “Sedangkan untuk bisa mengembalikan kesuburan tanah diperlukan 4 kali masa tanam. Sehingga dalam 28 bulan tanah yang telah digunakan budidaya koro pedang akan subur kembali.”

Rencananya, dalam panen raya yang akan dilakukan tidak lama lagi dirinya bersama APPKPI Wilayah Jawa Tengah akan mengundang Gubernur Jateng untuk hadir dalam acara tersebut. (*)
sumber:

http://www.wartablora.com/baca/warto-deso/347-menelisik-potensi-kacang-koro-pedang-di-blora-potensi-ekonomi-tinggi-mampu-kembalikan-kesuburan-tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: